Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2016

Ketahuilah, Doa Orang Tua Adalah Modal Terbesar Kesuksesan Seorang Anak

Tak bisa dipungkiri, Bahwa Doa Orang Tua Adalah Modal Terbesar Kesuksesan Seorang Anak, Kesuksesan yang dicapai oleh seseorang tak biaa lepas dari peran orang tua. Terutama doa mereka. Ya, doa orang tua adalah doa yang paling mustajab, terutama doa seorang Ibu, karena doa dari mereka untuk anaknya bisa menembus langit, entah doa baik ataupun buruk.
Ketahuilah, Doa Orang Tua Adalah Modal Terbesar Kesuksesan Seorang Anak
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa orang tua kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.

Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.

Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.

Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya orang tua, coba tanyakan kepada mereka yang salah satu orang tuanya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.

Coba bayangkan jika kita tidak punya orang tua, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna.

Suatu ketika saya pernah mendapati seorang tetangga ketika menyiram tembakau berkata pada anaknya sambil meneteskan air mata: "Semoga melaratmu saya saja yang tanggung nak, semoga hidupmu dimudahkan oleh Allah."

Doa orang tua seperti diatas sebenarnya tipikal saja, alias biasa dan lumrah. Hanya saja, ketika kisah ini diceritakan sendiri oleh anak miskin dan mempunyai masa lalu kelam hinggak akhirnya mencapai kesuksesan pada masa kininya maka kisah ini akan memiliki getaran yang berbeda. Sangat mengharukan.

Modal utama kesuksesan seorang anak adalah Doa orang tuanya. Jika kita adalah orang tua, jangan pernah bosan bosan untuk mendoakan anak-anak kita. Kalau kita adalah anak, jangan sekali kali anggap remeh peran doa orang tua kita. Kalau kita sudah sukses, yakinilah bahwa dalam kesuksesan kita ada doa orang tua sebagai ruh kesuksesan itu sendiri. Lalu, sudahkah kita berbuat sesuatu untuk orang tua kita?

Anak tetangga yang saya ceritakan diatas, Hanya punya 2 stel baju dan celana, sepatunya sepatu rusak dan itupun cuma sepasang saja. Anak tersebut selalu tersenyum walau hidupnya pun tak punya masa depan yang jelas. Satu-satunya penguat semangatnya adalah suara orang tuanya yang selalu terngiang di telinganya: "semoga cukup saya saja yang melarat, semoga engkau bahagia."

Ketika anak tersebut sudah beranjak dewasa, Ada seorang ulama besar yang ingin menjadikannya menantu. Semua tetangganya mencibirnya dan berkata: "kok memilihnya jadi menantu, apa yang bisa diharapkan, dia takkan bisa membuat bahagia."

Sang calon mertua tak bertanya pekerjaan dan penghasilannya. Bertanya masalah duniawi hanya menjadi penghinaan ketika melihat fakta pakaian dan celananya jauh dari kata sederhana, terlihat beberapa bekas jahitan cukup banyak.

Pertanyaan mertuanya hanya satu: "apa kamu bisa ngaji nak?" Dijawabnya dengan anggukan kecil." Lalu dinikahkanlah dia dengan putrinya yang taat kepada orang tua.

Masya Allah, Mertua yang sangat wira'i, mendahulukan pertimbangan agama dalam mencari menantu.

Saat ini anak tetangga saya itu menjadi lelaki yang diberkahi Allah. Harta yang dimilikinya bisa dikatakan lebih dari cukup, punya anak shalih shalihah dan kehidupan yang damai bahagia.

Menikahlah Sebelum Mapan Agar Istri dan Anak-Anakmu Tahu Arti Perjuangan

Dan entah karena apa saya teringat dengan kata-kata yang dibuat judul diatas, Buktinya banyak kita lihat pasangan suami istri yang ketika belum menikah rezeki seret namun setelah nikah terasa lebih dari cukup dan akhirnya bisa hidup mapan.
Menikahlah Sebelum Mapan Agar Istri dan Anak-Anakmu Tahu Arti Perjuangan
Berbahagialah bagi mereka yang berani menikah sebelum mapan. Beruntunglah bagi mereka yang mendapatkan pasangan yang belum mapan.

Banyak dari mereka yang selalu menunda menikah dengan alasan hidupnya belum mapan. Padahal kata 'mapan' sendiri relatif. setiap orang punya penafsiran yang berbeda tentang arti kata 'mapan'.

Bagi saya sendiri, arti kata 'mapan' sebenarnya sangat luas, bukan hanya mencakup perkara kekayaan duniawi saja, bisa jadi arti mapan adalah soal kesanggupan seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Jika kata mapan hanya diartikan sebatas uang atau jabatan, bukankah sering kita lihat mereka yang secara materi bisa dikatakan lebih dari cukup dan sukses dalam berkarir namun tak kuasa ketika menghadapi ego dan amarahnya sendiri?

Buat apa punya banyak harta, karir gemilang namun tak punya rasa tanggung jawab pada keluarga. Banyak kita lihat suami yang rela membuat istri dan anak-anaknya 'susah' bahkan suka memanjakan diri sendiri , atau malah bisa jadi hobinya memanjakan selingkuhannya. Artinya harta yang melimpah sama sekali tak akan berguna dalam sebuah pernikahan jika kita tak punya 'cinta' untuk menjalaninya.

Tidak sedikit suami yang sudah 'mapan' duluan sebelum menikah merasa bahwa dialah yang memiliki 'uang' dialah yang punya 'penghasilan', dialah yang bisa mempunyai 'kemapanan', orang-orang bertype seperti ini sering tidak menghargai dan merendahkan istrinya.

'Jika Kamu nekat menikah sebelum mapan, lantas istri dan anakmu dikasih makan apa? Mau makan cinta?' Barangkali pertanyaan itulah yang akan sering dilontarkan. Tapi mereka lupa bahwa mapan dan tanggung jawab merupakan dua hal yang berbeda. Dan yang dibutuhkan dalam hubungan pernikahan bukan harta dunia yang melimpah, Namun hanya satu: Tanggung jawab!

Menikahlah sebelum mapan, karena ini adalah pilihan orang-orang cerdas, yang hidupnya dipenuhi rasa optimis yang melimpah sekaligus empati yang mendalam. Bagi kamu yang sedang mencari pasangan, Carilah orang yang seperti ini. Pilihlah orang yang mengajak Kamu menuju sukses dan bahagia, bukan orang yang sudah 'merasa' sukses lalu hanya akan menjadikanmu hanya sebagai 'pelengkap' saja.

Menikahlah sebelum kamu mapan, agar istri dan anak-anakmu dibesarkan bersama dengan kesulitan yang kamu hadapi, agar istri dan anakmu kenyang dengan kebesaran dan keajaiban Allah, jangan sampai kamu tinggalkan anak istrimu dalam keadaan tidak paham bahwa sejatinya hidup adalah sebuah proses perjuangan.

*************

Berikut adalah beberapa komentar dari netizen terkait 'menikah sebelum mapan' yang ditulis oleh akun Fahd Pahdepie,

Memang harus menikah dulu baru MAPAN, soalnya sudah banyak kejadian mapan dulu lalu menikah ujung-ujungnya malah di GREBEK PAK RT...hehehe.... (Anang Arifuddin)

Mapan atau tidaknya seseorang bukan merupakan tolak ukur untuk menikah atau tidak menikah, karena pasangan sejati hendaknya setia baik susah maupun senang, lihatlah nabi ayyub yang ditinggal oleh istrinya ketika Allah memberi cobaan berupa sakit dan jatuh miskin, itulah tanda cinta istri yang hanya berlandaskan pada materialisme bukan pada keimanan.. bisa jadi kalau mereka yang menikah dikarenakan suami yang mapan dan suatu saat jatuh miskin, apa ada jaminan istri masih setia? (Sylmi Salamun)

Kemapanan relatif bagi setiap orang... yang terpenting adalah antara pasangan sudah tahu tugas dan tanggung jawab masing-masing (Luluk Nur Hidayah)

Allah sudah menjamin ... tidak usah takut dengan apa yang belum tentu terjadi.. toh Allah sudah menjamin, ayam dalam kandangpun bisa makan... yang penting kita punya mental yang kuat ilmu yang cukup dengan izin Allah insyaallah semua akan lancar dan sejahtera dengan menjadi keluarga Sakinah mawadah warrahmah.. Aamiin (Al Khan)

Kalau nikahnya di niatkan untuk menyempurnakan agama dan semata mata hanya mencari keridhoan Allah pasti enak ngejalaninnya... (Herman Nya Ani)

Nikah kok nunggu mapan.. sing nunggu mapan ki kawin... mapan turu sig lagi kawin... (Santoso Hasan)

Menikah bukan karena kemapanan atau tidaknya seseorang dalam materi namun jika seseorang merasa mampu untuk membina rumah tangga yang bahagia, baik itu dalam materi maupun dalam tanggung jawab sebagai suami maka menikahlah. Kalau menyangkut rizki atau kemampanan dalam sebutan lainya isya Allah itu Allah yang kuasa akan hal itu. (Rendy Maifal)

Lebih indah mapan bersama saat sudah halal dan menikah, nikmatnya bisa dirasakan bersama (Kenina Shelia)

Mapan nggak harus dari ekonomi. Mapan itu dari segi emosi, kepribadian, akhlak dan yang penting keimanan. Banyak juga kok yang nikah sebelum mapan atau bahkan udah mapan sekalipun, dia kerja keras hingga akhirnya di kasi rezeki sama Allah, tapi di tengah perjalanan cerai gara - gara orang ke tiga. Itu karena imannya kurang. Kalau dari segi ekonomi kita jangan khawatir. Percaya aja sama Allah, rejeki kita udah di atur kok, asal tetep kerja keras. (Fredy Bagus)

Semua komen di atas ada benarnya... tapi ada beberapa yang mempertanyakan... apa mau orang tua perempuan dipinang alakadarnya... kita jangan munafik ... umumnya keluarga perempuanlah yang menentukan berapa dana yang diminta...memang agama tidak ada mnentukan... kalau nikah di KUA saja.. fitnah bertebaran... kenapa nikah di kua... hamil ya... padahal gak ada apa-apa... tapi berita negatif dah nyebar...banyaklah macamnya...saya sudah sering ngalami... keluarga saya banyak yang laki-laki... minang terus... jadi udah pengalaman... dan saya sekarang punya anak laki.. 28 tahun, belum nikah dan baru kerja... pastinya bersiap akan hadapi kayak gini kalau mau minang anak orang (Wahidah Awang)

Lalu bagaimana pendapat kamu tentang 'Menikah Sebelum Mapan'? Setujukah?

Minggu, 24 Juli 2016

Berjuang Itu Pedih, Tapi Lebih Pedih Lagi Tidak Berjuang


Untuk merealisasikan masa depan yang cerah tidaklah mudah, perlu perjuangan yang berdarah-darah dan hati yang amat kukuh. Dan ini hanya bisa dikerjakan orang-orang yang mempunyai mental baja, kebanyakan orang sukses berkata "kami seperti ini bukan karena kemujuran tetapi perjuangan yang keras".
Masa muda itu sungguh singkat kawan, so kita harus gunakan sebaik dan semenyenangkan mungkin untuk berjuang dan menggapai cita-cita untuk mendapatkan passion yg kamu inginkan.Memang sih, berkata-kata itu lebih mudah, yang sulit adalah mewujudkannya. Hei !!!! saya ingatkan lagi, di dunia ini tidak ada yang mudah. Dari kita dilahirkan saja kita sudah diberi perjanjian oleh Tuhan bahwa hidup itu tidak mudah dan kita sanggup maka terlahirlah kedunia ini, ya kalo ga sanggup kita ga akan lahir. Hidup itu adalah sebuah proses, semakin kita diam saja dan mengikuti arus kehidupan yang tak menentu, maka kita akan menjadi orang yang biasa saja dan terlupakan oleh dunia.Jadi, mumpung masih muda bergeraklah, bekerjalah, gunakan otak semaksimal mungkin untuk mendapatkan passion kehi9dupan yang memang kamu rasa layak untuk kamu dapatkan.
Jadilah orang yang percaya pada diri sendiri, berdamai dengan masa lalu, mencintai kehidupanmu, bekerja dengan penuh ikhlas, ciptakan dan lihatlah peluang, berkomunikasi dengan masyarakat luas, bacalah apapun yang menyenangkan dan bermanfaat untuk kamu dan orang lain, kumpulkan relasi, mulailah berpenampilan yang sesuai, senyum, dan terakhir sandarkan semua usahamu pada Tuhan.
so, keep fight para pemuda. berjuanglah maka hidupmu menyenangkan. atau diam sajalah maka hidupmu terlupakan.

Minggu, 17 Juli 2016

Foto-foto yang Menunjukkan Begitu Kecilnya Manusia Dalam Dunia Ini Bisa Bikin Kamu Sesek Napas!

Sobat cerpen, pernah nggak ngerasa kalau kamu adalah seseorang sukses yang besar di dunia ini? Memiliki kedudukan dan kekayaan kayaknya sering membuat kita merasa besar. Padahal yah, kalau dibandingin dunia ini mah, apalah kita yang kecil ini. Cuman seringkali manusia melupakan keberadaannya yang hanya butiran debu ini. Kita malahan sering merusak alam semesta yang pada dasarnya justru lebih besar dari kita dan bisa bikin kita mati kalau kita rusak terus. Foto-foto di bawah ini bisa sekali lagi mengingatkan kamu, kalau kita itu kecil, makannya kita harus menjaga lingkungan yang besar ini!
Berasa nggak kecilnya? Atau masih kurang? Cerpen kasih lagi deh…
Coba bayangin, apalah artinya kamu.. kayaknya ditoel sedikit juga udah keok gitu..
Bumi ini rumah kita, makannya harus kita jaga lho! Padahal mah, bumi dibandingin galaksi juga, masih kecil banget lho… Yuk, sama-sama direnungkan yah! 
Measure
Measure

Jumat, 15 Juli 2016

Persoalan Usia 25: Sudah Dewasa, Tapi kok Hidup Masih Seperti Ini ya?

Dalam hidup setiap manusia terdapat tingkatan-tingkatan usia. Setiap tingkatan memiliki ekspektasi dan konsekuensi yang berbeda-beda. Ketika usiamu baru sepuluh, ekspektasi serta yang konsekuensi yang harus kamu hadapi mungkin sebatas nilai rapor dan teman sepermainan di sekolah. Ketika usiamu 25, kenyataan dan masalah yang kamu hadapi juga berubah.
Banyak yang mengira usia 25 adalah usia emas. Saat di mana seseorang telah matang dari segi finansial, cita-cita, serta emosi. Kesiapan untuk hidup serius sebagai orang tua begitu saja dibebankan kepadamu saat usiamu sudah 25. Tidak heran bahwa kamu pun punya ekspektasi yang tinggi pada usia seperempat abad ini.
Kenyataannya? Tidak semudah itu. 25 tahun adalah angka yang begitu keramat. Apa yang dicita-citakan dan apa yang didapatkan seringnya tidak sependapat.

1. Dulu kamu pikir usia 25 adalah paripurna segala kebimbangan. Nyatanya, justru inilah gerbang dari segala bimbang yang harus kamu alami

Kenyataan masih sama galaunya via incolors.club
Label galau dan bimbang mudah saja disematkan kepada remaja. Usia-usia muda nan labil, yang bingung menentukan segalanya. Mereka banyak tidak tahu mulai dari cita-cita, apa tujuan yang ingin dicapai, juga apa hal yang ingin dilakukan. Berbeda saat usia sudah menginjak 25. Kamu yang dianggap sudah sepenuhnya dewasa, seharusnya sudah melepaskan segala kebimbangan dan melangkah ke depan dengan mantap.
Kenyataannya tentu tidak semudah itu. Usia 25 justru menjadi pintu gerbang dari segala jenis kebimbanganmu. Saat remaja, kebimbanganmu kecil. Karena bagaimanapun bebanmu sebatas PR matematika. Saat ini, kebimbanganmu menjadi-jadi, karena seiring usiamu bertambah, tuntutan beban di pundakmu juga meningkat. Sementara faktanya, hidupmu masih belum banyak berubah.

2. Mandiri secara finansial sudah kamu idam-idamkan sejak muda. Nyatanya, seringkali karier dan penghasilanmu masih minim juga

Karir dan penghasilan masih biasa saja via www.pexels.com
Bila dulu kamu membayangkan di usiamu yang 25 kamu sudah bergelimang harta hasil kerja keras, punya karir yang cemerlang, serta membanggakan kedua orang tua, mungkin saat ini kamu harus menggigit jari. Keinginan itu tentu masih ada. Tapi apa daya, tidak selamanya kenyataan mau diajak kompakan. Hal-hal itu masih dalam angan. Saat ini, kamu justru masih berjuang di titik bawah. Berusaha bekerja dengan posisi yang rendah dan penghasilan sekadarnya. Menjadi karyawan biasa yang pergi pagi, pulang malam, dan selalu menunggu tanggal gajian.

3. Tuntutan antara melanjutkan pendidikan dan kebutuhan akan finansial sering menjadi bahan kegalauan

Kuliah atau kerja? via www.artikuno.com
Tentunya hidup selalu punya pilihan. Kamu yang sudah menjadi sarjana sering dihadapkan pada dilema untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 atau bekerja dulu. Bila menuruti kata hati, tentunya kamu ingin S2 dulu. Dengan ilmu yang tinggi, tentu kamu lebih siap menghadapi kerasnya dunia. Tapi kebutuhan akan finansial seringnya tidak bisa dibohongi. Ingin terus menodong orangtua juga rasanya tidak tega.
Akhirnya kamu memutuskan untuk bekerja dulu, sambil menyiapkan diri untuk S2. Sayangnya, dunia kerja tidak seindah yang kamu kira. Waktumu sudah tersita semua untuk pekerjaan bagaimana bisa mempersiapkan diri untuk pendidikan? Itulah kenyataan, hidup selepas kuliah seringnya meleset dari bayangan.

4. Dulu targetmu adalah menyelesaikan S2 sebelum usia dua lima. Nyatanya, beasiswa belum berhasil kamu kantungi juga

S2 masih di angan-angan via qtoplife.com
Dalam bayangan dirimu yang masih muda, usia 25 kamu sudah menggenggam segalanya. Setidaknya kamu sudah menggenggam dua gelar di belakang namamu yang kamu peroleh dengan beasiswa. Sayangnya, mencari beasiswa memang tidak mudah. Apalagi bila dilakukan sambil kerja. Yang sering terjadi, usahamu mempersiapkan diri melanjutkan S2 terganjal padatnya dunia kerja. Bertahun-tahun sudah berlalu dari hari kamu diwisuda. Beasiswa untuk S2 yang kamu harapkan belum terlihat juga.

5. Kamu kira, usia 25 adalah sematang-matangnya cita-cita. Tapi banyak juga yang belum tahu apa tujuan hidupnya

Passion tidak selamanya harus dikejar via www.tumblr.com
Mengakui bahwa saat ini kegalauanmu sama besarnya dengan anak SMA tentu tidak mudah. Tapi bagaimana bila kenyataannya memang demikian? Usia 25 bukan jaminan kamu sudah tahu pasti apa yang akan kamu lakukan dengan hidupmu kelak. Dulu kamu tahu apa yang kamu mau. Orang menyebutnyapassion, dan kamu bertekad mengejarnya demi hidup yang bahagia.
Tapi dunia terkadang memang menyebalkan. Pekerjaan di bidang yang kamu inginkan ternyata tidak pernah ada di lowongan. Kamu terjebak di pekerjaan yang sebenarnya kurang kamu suka, dan semata-mata menjalaninya bagai rutinitas. Bila ditanya apa cita-citamu kelak, kamu jadi bimbang bagaimana menjawabnya. Bahkan terkadang pekerjaan yang sesuai passion dan keinginan harus dilupakan, karena kenyataan yang tidak sejalan.

6. Rumah, mobil, dan segala yang kamu janjikan ke orangtua masih angan-angan semata. Nyatanya, penghasilanmu hanya cukup untuk diri sendiri saja

Gaji hanya cukup untuk diri sendiri saja via theculturetrip.com
Membahagiakan orang tua jelas menjadi mimpi setiap anak. Meski tidak pernah bisa membalas kasih orangtua yang sepanjang masa, setidaknya kamu pasti ingin memenuhi semua kebutuhan ayah dan ibu yang sudah berusaha keras untukmu di masa lalu. Di hari tua ini, seharusnya mereka duduk saja menyaksikan kesuksesan sang anak. Kenyataannya, mimpi itu harus kamu simpan dulu rapat-rapat.
Kini fokus pertamamu tentu untuk bertahan hidup mandiri dengan penghasilan yang sedikit. Jika kamu belum bisa memenuhi kebutuhan orangtua, setidaknya kamu tidak lagi merepotkan mereka. Usia 25 yang digadang-gadang menjadi usia emas, ternyata menyimpan kenyataan pahit. Tapi tak apa, banyak orang yang mengalaminya.

7. Walau sudah 25, urusan pernikahan tidak segampang yang kamu pikirkan. Sementara keluarga terus mendesak minta kepastian kapan

Pernikahan tidak semudah kelihatannya via www.bianoti.com
Di usia ini kamu juga harus berakrab-akrab dengan pertanyaan Calonnya mana? Kapan nikah? . Dulu kamu pasti tidak pernah memikirkannya. Dalam benakmu yang masih hijau, memang sudah seharusnya usia 25 dijadikan pijakan untuk melangkah ke kehidupan yang baru, sebagai suami atau istri seseorang.
Nyatanya setelah kamu dewasa, persoalan pernikahan tidak semudah itu. Kamu punya segudang pertimbangan untuk calon pasangan sehidup semati, yang tidak mungkin mampir di benak remajamu dulu. Tapi keluarga dan sekelilingmu tidak mau tahu. Desakan pada tanggal pasti selalu kamu dapatkan. Alasanmu untuk fokus mengejar cita-cita dulu tentu tidak masuk di akal.

8.Banyak hal yang harus direlakan, banyak yang harus dipertanggung-jawabkan. Memang, usia 25 tidak semudah yang kamu bayangkan

Banyak hal yang harus direlakan via emgn.com
Memasuki usia 25, sama artinya memasuki babak baru dalam kehidupan. Ada orang yang beruntung, sehingga tinggal melanjutkan saja apa yang telah ada karena dunia bersikap baik padanya. Tapi ada juga yang harus menata ulang segalanya.
Di usia yang sudah matang ini, banyak hal yang berubah. Banyak yang tidak lagi sesederhana saat kamu masih remaja. Banyak idealisme dan pemikiran yang harus direlakan karena tidak mungkin lagi diterapkan. Tidak perlu asing dengan duniamu saat ini. Sebab sebenarnya bukan dunia yang berubah, melainkan cara pandangmu terhadapnya yang berubah.

9. Jatuh bangun berusaha dengan segala kekecewaan yang datang menerpa adalah hal biasa. Toh usiamu baru dua lima~

Kegagalan adalah biasa via www.justjoyministries.com
Bila usia 25-mu diwarnai penyesalan karena banyak hal yang meleset dari rencana, sama. Bila usia 25-mu diwarnai dengan pertanyaan mengapa kamu yang sudah berusaha sekuat tenaga tapi masih belum bisa beranjak ke level selanjutnya juga, sama. Bila usia 25-mu diwarnai dengan kekhawatiran tentang masa depan yang suram karena sejak sekarang kamu masih belum punya tujuan yang jelas, sama. Jatuh bangun dan kekecewaan itu hal biasa. Kesalahan dan kegagalan juga hal yang normal, toh usiamu baru 25.

10. Sebagian orang berhenti mencari di usia 25, sebagian baru mulai mencari. Apa yang kamu lakukan saat ini adalah bagian dari pendewasaan diri

Setiap langkah adalah pendewasaan via nadiadwifortuna.blogspot.co.id
Setiap orang memiliki garis hidupnya sendiri. Ada yang sudah matang dan dan tinggal melanjutkan, ada yang baru memulai langkah pertama. Ada yang sudah nyaman di tempatnya saat ini, ada yang resah dan merasa bukan di situ tempatnya seharusnya. Tidak perlu mengikuti standar orang lain. Melanjutkan atau memulai langkah baru, semua itu adalah pilihanmu. Bagian dari pendewasaan yang kamu alami. Bila kesuksesan belum terlihat juga, sabar. Namanya usaha pasti ada prosesnya.
Di usia 25, kamu akan banyak belajar untuk berdamai dengan kenyataan. Belajar menerima apa yang tersaji di depan mata. Meski banyak hal yang mungkin mengecewakan, tapi usia 25 menyimpan harta karun di bawah sana. Tinggal bagaimana usahamu menemukannya, dan mengasahnya menjadi modal kekayaan. Tidak perlu kecil hati bila merasa belum apa-apa sebagai manusia. Kenyataannya, banyak juga yang mengalami hal yang sama. Kamu, dia, dan mereka, hanya sedang menjalani satu babak dalam kehidupan. Bagaimanaending-nya, kita tentu belum tahu jawabannya.

Selasa, 12 Juli 2016

Jangan Cuma Di Bibir Aja, Sudahkah Kamu Benar-Benar Menghormati Perempuan?

Wanita adalah makhluk Allah yang mulia dan indah, tapi dizjaman sekarang ini wanita menjadi makhluk yang dianggap lemah dan rentan terhadap kejahatan. Bahkan sekarang ini kerap kali pelecehan seksual mendera kaum wanita. Miris memang melihat fenomena ini, karena tidak sedikit kaum adam yang kurang bahkan tidak menghormati wanita.
Padahal, sebenarnya, untuk dapat menghargai seorang wanita, kamu hanya perlu memahami tentang beberapa hal...

1. Bicara dengan Lembut


Kadang, yang lembut itu justru menguatkan via https://google.com
Sekalipun kamu kesal jangan pernah berteriak keras, membentak bahkan sampai memukul perempuan, itu perbuatan kasar. Jika begitu, berarti lelaki itu bukan tipikal orang yang comfortable. Sebisa mungkin tahan emosi, jangan meledak meskipun si perempuan sedang meledak. Perlakukan ia selembut mungkin saat sedang marah, maka ia akan tersipu dan luluh.
Jika saat dia marah dan dimarahi lagi oleh laki-laki maka ia akan takut, akan terngiang sampai kapanpun perlakuan kasarmu padanya. Karena pada hakikatnya perempuan diciptakan sebagai makhluk yang lembut, sekalipun penampilannnya sangar tapi percayalah dia punya sisi sensitif yang membuat ia tetap perempuan. Begitu pula perlakuannya.

2. Jangan Berbohong

Bohong itu dosa… via https://google.com
Bagi perempuan hal paling menyakitkan adalah dibohongi. Betapa tidak, sakit rasanya jika menaruh kepercayaan namun disalahgunakan. Dalam hal mencintai, perempuanlah yang paling berperan dalam hal pengorbanan. Jika ia merasa nyaman dengan seseorang, ia akan menyayangi, mengorbankan dan melakukan apa saja terhadap yang ia sayang. Seorang ibu akan rela mempertaruhkan nyawa demi anaknya, tidak peduli sesulit apapun medan yang ia hadapi untuk membuat anaknya bahagia. Begitu pula seorang wanita yang baik dan layak dijadikan pasangan, seperti seorang ibu. Memperlakukanmu seperti anaknya dan bisa membuatmu selalu rindu pada ibumu. Siapapun dia, ibumu, pasanganmu nantinya, atau orang yang sedang kamu anggap kekasih. Jika ia perempuan jangan pernah berkata bohong. Ingatlah pengorbanannya.

3. Pahami Sepenuh Hati

Lagi PMS malah dicuekin, kan sedih… via https://google.com
Semua perempuan yang mengalami haid pasti pernah mengalami masa PMS atau pramenstruation syndrome. Kalian tahu rasanya? Tentu tidak. Hal itu sulit diungkapkan dan sulit dibayangkan untuk kalian laki-laki. Terkadang rasanya seperti ada yang mengeruk perutmu namun bukan disitu letaknya, badanmu langsung terasa pegal, disenggol sedikit saja rasanya ingin marah, begitu ibaratnya.
Untuk kalian yang memiliki seorang perempuan dan kalian mencintainya, jangan sekali-sekali kamu tinggalkan ia saat seperti itu, dampingi dan jadilah pendengar yang baik bagi keluh kesahnya. Terkadang ada seseorang yang mengakunya sebagai kekasih tapi ia malah menghindar dan berkata “aku tidak mau dekat kamu kalau lagi ‘dapet’, serem, takut” Pria bodohlah yang seperti itu. Seharusnya kamu adalah orang yang paling bisa membuatnya tenang dan nyaman jika memang benar kamu mencintainya.

4. Stop Kekerasan Terhadap Wanita dan Hindari Merokok Dekat Mereka.

Love is not abuse… via https://google.com
Ingat ibumu, beliau seorang perempuan. Laki-laki lahir dari rahim perempuan. Jika kamu ingin berbuat sesuatu pada perempuan, posisikanlah jika perempuan itu adalah ibumu. Maka kamu akan menggunakan perasaanmu sebagai pertimbangan. Perlakuan laki-laki terhadap perempuan adalah cerminan bagaimana ia memperlakukan ibunya sehari-hari.
STOP WOMEN ABUSING, STOP PELECEHAN TERHADAP PEREMPUAN, DAN STOP MEROKOK DEKAT PEREMPUAN!!
Kalau kalian tidak setuju, masa bodoh. Ini kan bulan emansipasi, bulannya perempuan :p

5. Hijabkan diri dan hatimu

Mulai dari diri sendiri… via https://google.com
Semoga artikel ini dapat memberikan hikmah serta manfaat bagi Anda semua khususnya para Ukhti yang membacanya. Hijabkan diri dan hatimu Ukhti… agar mereka (lelaki) dapat menghormati dan menghargaimu.