Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2016

Kisah Nyata: Suami Istri Gaji 900 Ribu, Nafkahi 100 Anak Yatim

Kisah Nyata: Suami Istri Gaji 900 Ribu, Nafkahi 100 Anak Yatim │ Sungguh dalam kehidupan ini, seorang manusia harus senantiasa bersyukur atas rezeki yang telah Allah beri. Jika pun hari ini kita tak memiliki uang namun kita masih bisa merasakan nikmatnya menyantap makanan, maka bersyukurlah karena kita bisa membeli dan memakan makanan dengan meminjam dahulu uang orang lain. Setelah itu kita kembalikan saat Allah memberikan rezekiNya.

Kita pun patut lebih bersyukur ketika mampu untuk makan sekaligus memiliki uang untuk membelinya. Dengan kata lain, kita patut untuk dikatakan sebagai orang yang berkecukupan dan menjadi orang yang senantiasa bersyukur.
Kisah Nyata: Suami Istri Gaji 900 Ribu, Nafkahi 100 Anak Yatim
Namun sebaliknya jika kita memiliki uang dan lidah untuk merasakan kenikmatan makanan terasa pahit ataupun tubuh dalam keadaan sakit, maka bersabarlah. Karena hidup ini akan diisi dengan berbagai ujian. Pun begitu juga ketika memiliki uang yang lebih kemudian mengajak yang lain untuk ikut merasakan rezeki tersebut, maka kita pun pantas masuk dalam kelompok orang yang diberi kelebihan oleh Allah.

Namun apa jadinya jika seseorang yang memiliki penghasilan yang pas-pasan justru bisa memberi makan dan mengurus anak yatim? Sungguh sebuah kehidupan yang jauh berbanding terbalik dengan kehidupan umumnya masyarakat yang enggan berbagi rezeki dengan anak yatim meski uang di tangan begitu banyak.

Orang yang bergaji pas-pasan ini benar-benar membuat kita sulit untuk mencerna bagaimanakah cara mereka memberi makan dan mengurus keperluan anak yatim tersebut? Bukan hanya satu anak, melainkan 100 orang anak. Benar-benar hal yang luar biasa karena Allah telah memilih orang tersebut untuk menjadi orang tua dari banyak anak.

Seperti suami istri ini yang mau menanggung 100 orang anak yatim dengan syarat anak-anak tersebut mau mondok / tinggal bersama mereka. Selain itu anak-anak juga harus mau sekolah. Sungguh sesuatu yang sangat luar biasa mengingat suami istri itu hanya memiliki gaji 900 ribu perbulannya dari kerja sebagai seorang kepala sekolah di sekolah swasta. Makan pun bukan hanya sekali, melainkan 3 kali dalam sehari. Belum lagi keduanya akan menyelipkan uang jajan di saku anak-anak yatim tanpa ada satu pun lembaga yang ikut menjadi penanggung jawab dari kehidupan mereka.

Ketika ditanyakan kepada mereka berdua, senyum merekah mulai terlihat dari keduanya. Salah satu dari mereka pun berucap, “Allah Maha Kaya, Allah Maha Pemberi Rezeki lewat caraNya, bukan cara kita.”

Allahu Akbar, betapa keyakinan telah membuat keduanya mau menjadi orang tua asuh bagi 100 orang anak, bahkan kini bertambah lagi. Benarlah sabda Rasulullah bahwa kita harus senantiasa menyayangi anak yatim sehingga Allah pun akan mengkaruniakan rezekiNya yang melimpah kepada kita.

Semoga bisa menjadi bahan perenungan panjang untuk kita semua yang merasa dilapangkan oleh Allah dalam rezeki namun enggan untuk membantu sesama, terutama kepada anak yatim.

Wallahu A’lam

Senin, 15 Agustus 2016

Tak Ingin Kecewakan Cita-Cita Anaknya Yang Lumpuh, Ibu Ini Rela Menggendongnya Tiap Hari Ke Sekolah

Tak Ingin Kecewakan Cita-Cita Anaknya Yang Lumpuh, Ibu Ini Rela Menggendongnya Tiap Hari Ke Sekolah
Ilham tiap hari digendong ke sekolah oleh ibunya (Tribun Jateng)
Tak Ingin Kecewakan Cita-Cita Anaknya Yang Lumpuh, Ibu Ini Rela Menggendongnya Tiap Hari Ke Sekolah
Keterbatasan fisik tidak lantas membuat tekad seseorang untuk menggapai cita-cita kemudian menjadi sirna. Itu juga yang dialami oleh seorang penyandang disabilitas bernama Ilham Irfani yang kini berusia 13 tahun.

Meski kaki kanannya mengalami kelumpuhan, Ilham tetap memiliki semangat tinggi untuk menggapai cita-citanya sebagai seorang ahli komputer.

“Saya yakin bisa mencapai impian itu dan bisa membuat orang tua serta ketiga kakak saya bangga,” ucapnya, sebagaimana dilansir dari Tribun Jateng, Minggu (7/8/2016).

Melihat keinginan anaknya tersebut, ibu bernama Siti Robiah kemudian gigih memotivasi anaknya untuk tetap melanjutkan sekolah. Tak hanya itu, ibu Siti Robiah juga menggendong Ilham dari rumah menuju ojek dan dari ojek ke dalam kelas. Begitulah perjuangan seorang ibu agar sang anak bersemangat sekolah.

Saat ini Ilham tengah mengikuti Program Kejar Paket B dimana pelaksanaannya bertempat di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Mitra Harapan Pabelan, Semarang.

Pihak pengelola tempat pendidikan yang diwakili oleh Sudarsih mengaku bahwa Ilham termasuk anak yang aktif dalam pembelajaran. Ia juga masuk dalam siswa yang pintar berdasarkan nilai ujian nasionalnya yang rata-rata 86.
“Di daftar nilai selama Ilham bersekolah di MI Pabelan saja rata-rata nilainya adalah 8. Di kelasnya selalu masuk ke 10 besar,” ucap Sudarsih.

Dirinya berharap agar Ilham mau melanjutkan ke Program Kejar Paket C karena nanti ada pembelajar vokasi dimana siswa yang menjadi penyandang disabilitas akan mendapatkan pendampingan dalam pembelajarannya.

Semoga impian Ilham untuk menjadi ahli komputer bisa terwujud dan dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Aamiin

Kamis, 28 Juli 2016

40 Tahun berstatus honorer, Kakek Maman tetap semangat mengajar


Pepatah guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa memang benar adanya. Bagaimana tidak, berkat bapak dan ibu guru kita bisa mendapat pengetahuan luas.

Kita akan semakin menghargai guru-guru apalagi jika kamu sudah melihat bapak guru yang hebat ini. Namanya Maman Supratman, usianya kini sudah menginjak 75 tahun. Selama 40 tahun mengajar, Pak Guru Maman atau lebih tepatnya bisa disapa Kakek Maman hingga kini masih berstatus sebagai guru honorer.

Dilansir brilio.net dari postingan Facebook Endang Rudiansyah, Pak Guru Maman ini mengajar di SMP 17 Bekasi. Walaupun sudah lanjut usia, semangatnya mengajar bahkan melebihi guru-guru muda.
Selama menjadi guru, Pak Guru Maman pernah mengajar Biologi, Fisika, Matematika dan saat ini mengajar Seni Budaya. Pak Maman juga hingga kini adalah guru yang masih semangat melestarikan angklung dan alat musik tradisional lainnya.

Semangat terus Pak Guru Maman, semoga jasa-jasamu akan selalu berguna bagi penerus generasi bangsa Indonesia!

Mungkin bagi Pak Menteri Pendidikan yang baru melihat kisah Pak Maman dan bisa mengangkatnya menjadi guru tetap (PNS).
(brl/swh)

Rabu, 27 Juli 2016

Hafiz cilik ini menangis saat sambung ayat, alasannya bikin merinding!


Penampilannya sungguh rapi layaknya seorang anak yang hendak pergi mengaji. Mengenakan baju koko warna putih dan peci hitam, seorang hafiz cilik siap meneruskan sambungan ayat yang dibacakan sebelumnya oleh juri.

Awalnya ia begitu lancar meneruskan ayat demi ayat. Namun di satu ayat, ia menangis sesenggukan. Bukan karena tak hafal, rupanya bocah sekecil itu tak hanya hafal Alquran namun juga memahami isinya yang ternyata menjelaskan tentang kematian dan apa yang akan terjadi setelah mati. Inilah yang membuatnya tak kuasa menahan tangisnya.

Salah seorang juri membacakan surat Al Jumu'a ayat 5. Dengan lancar, hafiz cilik ini meneruskan ayat tersebut sampai dengan ayat ke-8. Sampai di ayat ini ia berhenti dan tangisnya tak bisa ditahan lagi ketika sampai pada ayat "tsumma turadduuna ilaa 'aalimil ghaibi wasy syahaadah" (kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata).
Cukup lama ia menangis hingga membuat salah satu juri ikut berkaca-kaca. Setelah mengusap air mata dan mengambil napas sebentar, ia lalu meneruskan bacaan surat sampai selesai.

Ayat 8 Surat Al Jumu'ah inilah yang membuatnya menangis. Berikut arti lengkap ayat tersebut:

Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kami lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan" (QS. Al Jumu’a: 8).

Kalau kamu masih penasaran, kamu bisa langsung tonton videonya di halaman selanjutnya, seperti dikutip brilio. net dari Facebook Cerita Para Wali, Senin (25/7).. Awas merinding!