Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juli 2016

Dear Calon Mertua, Ijinkanlah Aku Berkelana Sebentar Saja. Sebagai Bekal untuk Meminang Putrimu Tercinta


Setiap pasangan tentu mengindamkan pernikahan yang langgeng sebagai tujuan akhir sebuah hubungan. Tapi, terkadang orang tua meminta pernikahan itu dilangsungkan terburu-buru. Akibatnya, ikatan pernikahan itu berjalan tak sebagaimana yang diharapkan karena semua diawali rasa ragu.
Mungkin, di antara kamu ada yang pernah merasakannya. Mewakili pria-pria bernasib sama, kukirimkan sebuah surat berisi keluhan, doa, dan harapan untuk calon mertua yang berada jauh di sana. Kami tak bermaksud membuatmu menunggu lama. Kami hanya ingin membuat putrimu bahagia.
Aku dan putrimu punya mimpi membangun rumah tangga bersama viawww.wagnersrv.com
Dear calon mertua,
Aku dan putrimu sudah menjalin hubungan cukup lama. Kami pun punya mimpi untuk membangun rumah tangga bersama. Tapi sebelum itu, aku butuh waktu untuk belajar menjadi lelaki dewasa dan bisa dipercaya.
Maka dari itu, ijinkanlah aku pergi berkelana untuk sementara. Aku ingin menjadi lebih dewasa sebelum meminang putrimu tercinta. Relakanlah aku pergi untuk melihat sisi lain Indonesia dalam beberapa bulan saja.
Dengan berbagi waktu dengan alam, aku akan tau siapa diriku yang sebenarnya via www.wagnersrv.com
Dear calon mertua,
Aku bukan ingin lari dari tanggung jawab atau menghambur-hamburkan uang untuk pergi berwisata. Aku ingin membuka mata, hati, dan telinga, melihat kebesaran Tuhan di tempat yang tak pernah kulihat sebelumnya.
Orang bilang, ada banyak manfaat yang bisa didapat dari sebuah perjalanan. Aku pun ingin seperti mereka, bisa belajar mengelola keuangan, belajar hidup bermasyarakat, dan tentunya lebih mengenal diriku yang sebenarnya.
Aku akan kembali sebagai pria yang lebih matang dan dewasa viawww.petaperjalanan.com
Dear calon mertua,
Bersabarlah sedikit lagi. Aku ingin melihat dan merasakan kehidupan yang sebenarnya sebelum berumah tangga. Aku ingin menemukan makna perjuangan dalam hidup, seperti yang dilakukan orang-orang di luar sana.
Semua ini bukan ego pribadi. Aku justru melakukannya untuk membuat keluargaku kelak bahagia. Mimpiku sangat sederhana, aku ingin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dan bijaksana.
Aku ingin menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab dan bijaksana viatumblr-backpacker-travel
Dear calon mertua,
Engkau tak perlu khawatir akan hubungan ini, sebab jodoh sudah ditentukan sebelum manusia ada. Yang terpenting, aku dan putrimu sudah berusaha untuk menjaga hubungan ini dengan sekuat tenaga.
Aku tidak akan melarikan diri, aku cuma ingin menjadi lebih mandiri. Aku berjanji akan kembali sebagai pribadi yang lebih baik. Aku pun siap untuk meminang putrimu yang telah bersedia menemani perjalananku selama ini.
Setelah mendapatkan banyak pelajaran sepanjang perjalanan, aku siap mengajak putrimu menatap masa depan via www.dailymail.co.uk
Dear calon mertua,
Aku berharap bisa belajar dari segala hal yang kutemui sepanjang perjalanan. Dan yang paling penting dari semua itu adalah, aku ingin mendekatkan diri dengan Tuhan yang maha bijaksana agar hidupku kelak selalu bahagia.
Setelah bicara panjang lebar ke sana ke mari, kuharap engkau benar-benar bisa mengerti, memahami, dan menghargai keputusan ini. Semua ini kulakukan demi putrimu tercinta dan juga untuk membuatmu bahagia.
Salam hormat,
Dari calon menantumu…

Kamis, 30 Juni 2016

Terima Kasih atas Waktumu, Meski Kau dan Aku Tak Menjadi Kita

Apa kabar, masa laluku? Tahukah engkau aku masih selalu memikirkanmu tiap malamku, tapi aku sadar waktumu tak lagi untukku. Oleh karena itu aku tidak mau merindukanmu. Aku tidak mau merindukanmu yang sekarang. Aku hanya memikirkan waktu yang pernah kita lalui bersama.
Saat-saat dimana kebersamaan kita yang selalu terasa terlalu singkat bagiku. saat jarak menggoyahkan rasa yang ada. saat waktu selalu berbalut rindu, saat sebuah kabar terasa sangat penting. Saat semuanya masih tentang kau dan aku.

Darimu aku menyadari, bahwa cinta itu bukanlah aku dan kamu.

Kau tahu? Banyak hal yang aku sadari setelah kau tak lagi di sini. Aku baru menyadari tentang apa itu cinta yang sebenarnya, bahwa cinta itu sempurna. Cinta itu tak seperti yang kau dan aku lalui. Cinta itu seharusnya tak seperti yang kau dan aku jalani, yang saling menuntut satu sama lain dan tak pernah puas.
Cinta itu seharusnya bukan tentang keinginan untuk saling memiliki tetapi untuk saling membahagiakan dalam keadaan apapun. Bukan saling meminta tetapi saling berbagi. Bukan menuntut tapi mencoba mengerti, bukan egois karena gengsi tetapi bersyukur karena masih saling memiliki, karena cinta seharusnya bukan tentang kau atau aku tapi kita.
Orang-orang yang memiliki cinta seharusnya tak bersikap seperti yang kau dan aku lakukan. Cinta itu sempurna. cinta itu tak mempermasalahkan perbedaan, asal yang berbeda tak menjadi prahara. Kebiasaan yang tak sama tak boleh jadi penghalang. Keinginan yang berbeda seharusnya dihargai.
Karena sesungguhnya cinta yang sempurna memanglah terjadi antara dua insan yang berbeda, seperti kau dan aku. Perbedaan yang membuat keduanya bisa saling berbagi dan saling mengisi. Perbedaan seharusnya yang mengajarkan cara menyelesaikan masalah bersama. Perbedaan juga yang seharusnya member jalan keluar untuk keduanya.

Duhai masa lalu… Terima kasih atas pertemuan dan perpisahan, dan atas waktu yang pernah kita miliki bersama.

Semua yang telah aku lalui bersammu, semua yang telah terjadi antara kau dan aku mengajariku tentang hidup yang sebenarnya. Tentang cinta, pertemuan, perpisahan, senyum, sedih, kebahagian, dan keckecewaan. Segalanya tentang kau dan aku membuatku bersyukur kita pernah memiliki waktu bersama.
Duhai masa laluku aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tak lagi meneteskan air mata saat mengingatmu. Karena sekarang aku mampu mengingatmu dalam senyuman. Meski kau dan aku tak menjadi kita.

Senin, 27 Juni 2016

Tuhan, Berilah Aku Jodoh Terbaik Pilihan-Mu

Tuhan, segala yang terbaik sudah kulakukan. Untuk hasil akhir kuserahkan pada-Mu.
Tuhan, aku mungkin bukanlah gadis nan rupawan, jauh dari segala kemewahan. Aku dibesarkan di tengah keluarga biasa dan tak banyak hal yang bisa kudapatkan. Namun, Tuhan, bolehkah aku memohon pada-Mu akan satu hal yang saat ini tengah aku rindukan? Menginjak usia seperempat abad, kurasa wajar sebagai seorang wanita mendamba seorang laki-laki yang kelak bisa menjadi pendamping hidup hingga maut memisahkan.

Aku tahu, ilmuku masih dangkal. Bahkan masih sering aku berbuat kekhilafan. Maka dari itu, izinkan aku terlebih dahulu memperbaiki ilmuku, memperbaiki diriku karena-Mu. Sebelum pada akhirnya nanti Engkau pertemukan aku dengan jodohku.
Tak bisa kupungkiri bahwa terkadang terbersit dalam benakku, aku lelah menanti saat itu. Namun aku percaya bahwa akan ada saat yang tepat untukku kelak menemukan dia yang selama ini aku rindukan. Aku percaya janji-Mu benar. Maka dari itu, aku menepis segala lelahku dan kuganti dengan sejuta pengharapan, harapan yang kutujukan hanya pada-Mu.
Oh Tuhan, di sepertiga malam aku duduk bersimpuh menyapa-Mu. Berharap dan kusampaikan doa-doa terbaik untuk-Mu agar bisa Engkau pertemukanku dengan laki-laki terbaik menurut pilihan-Mu. Aku tak banyak meminta. Cukup laki-laki yang kelak bisa membimbingku ke jalan-Mu, jalan yang semakin mendekatkan aku pada-Mu. Aku membutuhkannya sebagai teman yang akan menemani perjalananku menggapai surga-Mu.
Untukmu, jodoh yang masih dirahasiakan Tuhan untukku, di sini ingin kusampaikan sebait rindu di hatiku padamu. Walau aku tak tahu siapakah dirimu saat ini, aku yakin Tuhan tak akan salah dalam memilihkan.
Aku selalu berdoa semoga kelak kita dipertemukan dalam kesempurnaan kasih-Nya. Semoga kelak kau mampu membimbingku dan bertanggung jawab atas diriku. Aku tahu, kau juga sedang menanti diriku. Tetaplah teguh dalam doamu. Mungkin Tuhan ingin kita saling merindu lewat doa-doa yang kita panjatkan sehingga kita belum dipertemukan. Jika mendoakanmu adalah cara yang dipilihkan Tuhan untuk mencintaimu, maka akau tak ingin berhenti berdoa. Tetap yakin dalam doa dan ikhtiar dalam sabar hingga Tuhan memutuskan yang terbaik karena Tuhan Maha Tahu segala hal yang kita tak tahu baik atau buruknya.
Terakhir, Tuhan, aku mohon pada-Mu, kuatkanlah hatiku. Aku mohon bimbinglah aku, dan berilah petunjuk-Mu. Aku tak akan pernah menyerah. Aku akan tetap sabar dan ikhlas. Aku percaya bahwa akan ada nikmat yang luar biasa yang didapatkan selepas masa sabar yang dijalani. Semoga Engkau jauhkan aku dari cinta yang belum layak menjadi hakku.
Tuhan, jagalah hatinya untukku dan jagalah hatiku untuknya kelak. Satukanlah hatinya dan hatiku karena cinta-Mu. Sampai akhirnya Engkau pertemukan, tak akan pernah lupa aku panjatkan pada-Mu untuk memberikan laki-laki terbaik pilihan-Mu dalam hidupku. Izinkanlah aku memanggilnya dengan doa-doa terindah dan terbaik dalam setiap sujudku pada-Mu.

Kamis, 23 Juni 2016

Pergilah dan Berlalu. Kesetiaanku Terlalu Berharga untuk Pengkhianat Cinta Sepertimu

Kemana saja kamu selama ini? Setelah semua kekacauan yang kamu perbuat dengan mudahnya kamu menghilang tanpa jejak, tak ada kata maaf terucap untuk semua khilaf. Lalu setelah semua berhasil aku perbaiki dan kumulai mempercayakan diri untuk jatuh cinta lagi pada sosok lain tanpa malu, kau malah kembali. Kau kembali dengan alasan telah menyesali semua perbuatan dimasa lalu. Katamu, kau masih mencintaiku.
Apa kau yakin dengan semua itu?
 chalard-maud.tumblr.com
Katamu kau tak bisa hidup tanpaku, tapi sampai detik ini kau masih saja hidup dengan baik-baik saja bukan? Dimana semua kata-kata yang kau ucapkan? Berjanji tak akan melukai dan mengkhianati. Tapi nyatanya kau bermain api dibelakangku. Dia kah yang lebih baik dariku? Dia kah yang kau sebut lebih mengerti kamu? Lalu kenapa kau sekarang datang lagi dengan menyesali semua perbuatanmu.
Dengarkan aku! Sekali lagi dengarkan baik-baik kataku! Tidak ada yang bisa dibenarkan dari semua perbuatanmu, terlebih kau memilih untuk berselingkuh dibelakangku, berbagi cinta dan mengkhianati aku. Tak cukupkah aku bagimu? Tak pantaskah aku mendapatkan kesetiaan darimu?
Telah kuserahkan semua yang menjadi milikku, bahkan hatiku telah kurelakan rapuh karenamu. Mataku tak pernah sekalipun berpaling memandang selain kamu, telinga ini tak pernah untuk mendengarkan selain suaramu, tanganku pun tak pernah menggenggam selain tanganmu. Namun aku tak bisa paksa kamu tuk tinggal di sisiku, kamu yang telah siksa aku dengan segala perbuatanmu.
Pergilah, pergi jangan lagi kau sesali yang terjadi karena aku bisa tanpa kamu. Tak usah kau ragu, aku rapuh tanpamu. Tapi bersamamu pun aku tak mampu jika masih saja kau berselingkuh.
Jadi lupakan aku, bawa kembali semua sesalmu dan ribuan maaf dari mulutmu. Aku ingin lebih baik tanpa kamu. Jangan lagi kau tawan hatiku, aku bukanlah budak cintamu. Bebaskan aku, biarkan aku kembali menemukan cinta selain kamu. Karena kau tak pantas bagiku.
Kesetiaanku terlalu berharga untuk pengkhianat cinta seperti kamu. Aku tak perlu lagi semua penjelasan darimu, karena semuanya sudah berlalu. Sudah ku maafkan semua kesalahmu, pergilah jangan ganggu aku.
Kini telah kutemukan dia sebagai penggantimu, dia yang mampu berjuang untukku, dia yang mampu meredakan luka hatiku karenamu. Dan dia bukanlah kamu, dia tak pernah berjanji untuk tidak melukaiku, dia juga tak pernah bersumpah mati untukku, bahkan dia tak mampu membawakan rembulan ke hadapanku. Tapi setidaknya dia tak sepengecut kamu, yang berani pergi membagi hati dan tega melukai. Dia tak sepertimu, semoga tak sepertimu.

Untuk Seseorang yang Masih Kucintai: Aku Pamit, dan Selamat Menemukan Cinta yang Lain

Tuan, ketika aku memutuskan pergi dari hidupmu, ketahuilah bahwa semuanya sudah kupikirkan dengan matang. Bahkan jauh sebelum akhirnya hari itu tiba. Dan, kesakitan saat harus melepaskan seseorang yang namanya acapkali kusebut dalam penggalan do’a-do’a ternyata harus kurasai lebih dulu, benar-benar di luar dugaan.
Kita tak perlu saling menyalahkan. Bukan salahmu, Tuan, jika cerita tentang kita usai sampai di sini. Bukan salahku, jika tak bisa lagi menitipkan segala rasa yang dulu pernah kau minta. Kita hanya sedang belajar menghadapi sebuah perubahan. Siap atau tidak, perubahan itu pasti ada!
Maaf jika akhirnya aku memilih mundur demi kebaikan-kebaikan lain yang akan kau peroleh nanti, Tuan. Juga sebaliknya. Langkahku semakin jauh, melepasmu adalah langkah terbaik demi menjaga perasaan ini dari pergerakan luka yang bisa memperburuk kondisi hati.
Biar nanti, kumohonkan pada waktu untuk mengajariku melupakanmu – meski tak mudah – bukan untuk membencimu. Perpisahan ini mungkin tak membuatku lantas membencimu atau sebaliknya, tapi tetap rasa sakit itu ada. Luka itu bisa jadi membekas di sini. Tapi cukup aku saja yang merasakannya. Kau tahu, kan? Aku sudah ahli menyembunyikan hal-hal yang sejatinya menyakitkan bagi diri.
Maka, Tuan, izinkanlah aku memangkas habis-habis ranting-ranting yang menjuntai ke masa lalu. Mulai saat ini, semua telah berubah. Ada sebuah batas transparan dari dirimu yang kini tak bisa lagi kusentuh. Pikiranmu yang tak bisa lagi kuterka akan kemana tujuannya. Tenanglah, kita hanya sedang belajar menerima apapun yang telah diajarkan oleh Sang waktu.
Telah kumohonkan pada harapan untuk menulis indah nama yang lain, tapi bukan untuk menghapusmu. Bahkan, telah kukatakan kepada bunga tidurku untuk melihat sosok yang lain di sana, tapi bukan untuk melupakan sosokmu yang dulu begitu kukagumi. Kau akan terus dan tetap ada, di sini. Tapi tentu sudah berbeda porsi. Agar aku tak menyakiti ia yang datang setelahmu.
Tuan, untuk apalagi kita gantungkan cita, jika langit pun telah melukis wajah muramnya. Kita hanya tinggal menunggu saja, agar waktu sesegera mungkin memudarkan. Hidup tetap harus berjalan, maka kita harus mulai menulis dan menyusun cerita-cerita lain bersama orang yang berbeda, juga di tempat yang berbeda. Akhirnya kita kembali lagi pada lintang dan bujur yang berbeda, karena hidup adalah aliran sungai yang hanya mampu kita ikuti lelikuannya, tanpa ada seorang pun yang dapat menyingkap rahasia pada muaranya.
Dan untuk hidup yang telah diwarnai, semoga masing-masing kita menemukan kebahagiaan tanpa harus bersama, di tempat lain. Aku atau kau, kita tidak tercipta sebagai mutiara yang hadirnya untuk menghiasi harapan dan takdir masing-masing. Tapi setidaknya, kita memiliki kesamaan, seperti mutiara retak. Aku hanyalah serpihan mutiara retak yang didamparkan untuk masa lalumu, begitu pula kau, Tuan.
Memasuki pekarangan hatimu adalah cara terbaik mengenal cinta. Cinta telah melahirkan begitu banyak kata dan aku merasakannya. Maka malam ini, akan meluap sekali ucapan terima kasihku untukmu, Tuan.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi membahasakan bahwa cinta yang sama-sama kita pahami dulu, telah mengajariku banyak hal. Memupuk sedikit kedewasaan dan membentuk kebijakan. Bahkan sampai akhirnya aku mengerti banyak hal mengenai cinta dan kesakitan. Dua hal yang mestinya sudah kupersiapkan jauh sebelum kata ‘cinta’ itu dideklarasikan di antara kita, ya.
Baiklah, kurasa ini saja. Matahari akan tetap terbit meski ada sendu di wajahnya, ia juga akan tetap terbenam. Pun, kita akan baik-baik saja. Aku pamit, selamat menemukan yang lain selain aku. Dan aku siap untuk jatuh cinta lagi.